Halaman

Pasar Barang Antik Yogyakarta



Ada pemeo yang hidup di kalangan pedagang Yogyakarta. Bila hari pertama barang dagangan laku, itulah pertanda tempat berdagang itu akan membawa peruntungan.

Mbah Warno (59), penjual Benda Antik, percaya pemeo itu. Kebetulan, salah satu barang antik nya berupa satu keris yang dijualnya langsung terjual pada hari pertama berdagang di Pasar Klithikan Pakuncen, Yogyakarta. Inilah modal awal keyakinan Mbah Warno berdagang hingga hampir dua tahun di pasar berlantai dua itu.

Barang antik berbentuk Keris Mbah Warno adalah satu dari ribuan ragam barang—mulai dari setir mobil, lampu, buku, setrika yang sudah berwarna kecoklatan, televisi, radio, lonceng sapi, kenop pintu, sepatu, ***ar, hingga ponsel—yang dijajakan di pasar barang antik klithikan. Ada barang yang masih gres, ada juga yang bekas dan tidak utuh lagi.

Keunikan barang antik yang dipasarkan di klithikan inilah yang membuat pedagang seperti Mbah Warno tetap eksis kendati menempati tempat baru. Bersama 718 pedagang klithikan yang semula tersebar di kawasan Alun-alun Kidul, perempatan Tugu Yogyakarta, hingga Pasar Kranggan, Mbah Warno memulai ”hidup baru” berdagang di tempat yang beratap.

Sebagai pedagang, ada kalanya Mbah Warno pulang dengan tangan hampa karena tidak ada satu barang antiknya yang laku. ”Kadang hanya Rp 10.000 yang saya dapat sehari. Tapi, sehari sebelumnya, saya bisa dapat Rp 1 juta. Itu sudah untung bersih,” ucap Mbah Warno yang sudah 10 tahun berjualan barang antik di bawah pohon tanjung Alun-alun Kidul.

Rini Suwarno (56), pedagang barang antik, malahan beberapa kali didatangi pembeli dari Malaysia, Jepang, dan Australia. ”Mereka suka radio lama, keris, sampai lampu. Kemarin malah ada pembeli barang antik yang bayar pakai ringgit,” katanya.

Siang itu, lapak Rini didatangi Teruki Uchise, turis Jepang. Teruki baru pertama kali ke pasar klithikan. Teruki langsung ”jatuh cinta” pada barang antik koin dan kunci. ”Saya datang ke Yogya untuk pertemuan bisnis. Sekarang ada waktu luang, saya diajak teman ke pasar ini. Ternyata barang dagangannya unik- unik,” kata Teruki sambil berjongkok, memilih barang antik.

Di pasar itulah Mbah Warno, Budi, Rini, dan ratusan pedagang klithikan menikmati dinamika berdagang di bawah naungan atap pasar.

Di sisi lain, Teruki selain mendapatkan barang antik juga dapat menikmati tujuan wisata unik di pasar klithikan.

Wali Kota Herry terus terang mengaku tak punya instrumen yang menjamin kelanggengan suasana berdagang di pasar klithikan, kecuali komitmen pimpinan daerah serta pemihakannya kepada pengusaha kecil dan pasar tradisional.

Andai kata kepala daerah kelak berganti, barangkali nasib para pedagang itu pun ikut berganti. Tak ada yang bisa menjamin.

cetak.kompas.com